Laman

Jumat, 12 Agustus 2011

PENDIDIKAN ISLAM MASA KEMUNDURAN


PENDIDIKAN ISLAM MASA KEMUNDURAN
Oleh: Sulhan Habib, A. Qomarudin, , As’ad Badrudin

I.          Pendahuluan
Pendidikan Islam secara khusus tidak dapat disamakan dengan makna pendidikan secara umum. Pendidikan Islam dikenal dan diyakini oleh penganut agama Islam sebagai suatu kegiatan pendidikan yang bersumber dari pokok ajaran Islam (al-Quran) dan al-Hadits sebagai penjelasnya. Pendidikan Islam yang mulai dirintis sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW mengalami pasang dan surut seiring dengan perjalanan panjangnya melintasi ruang dan waktu hingga masa sekarang.
Hal tersebut bergantung pada bagaimana pelaku sejarah pada masanya itu melaksanakan proses pendidikan.
Puncak kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal di berbagai pusat kebudayaan Islam. Hal ini dipengaruhi oleh jiwa dan semangat kaum muslimin pada waktu itu yang sangat dalam penghayatan dan pengamalannya terhadap ajaran Islam.
Namun pendidikan Islam yang pernah mengalami masa puncak tersebut, lambat laun mulai mengalami kemerosotan jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Peristiwa ini belangsung sejak jatuhnya kota Baghdad di bagian Timur dan kota Cordova di bagian Barat yang keduanya adalah menjadi pusat pendidikan Islam pada waktu itu. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga menjadi sebab kemunduran pendidikan Islam.
Dengan demikian, dalam sebuah lembaga pendidikan pasti terjadi pertumbuhan dan perkembangan, dan ini sama halnya dengan pendidikan Islam. Dalam pendidikan Islam ada beberapa masa yaitu masa perintisan, masa kejayaan, masa kemunduran, dan ada pula masa pembaharuan. Maka dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan beberapa bagian penting yang terkait dengan masa kemunduran yang terjadi sekitar abad 13-18 Masehi, yaitu; latar belakang sosial politik, faktor-faktor penyebab, kebangkitan pendidikan barat, profil pendidikan Islam, dan ulama terkenal pada masa kemunduran.

II.       Latar Belakang Sosial Politik Kemunduran Pendidikan Islam
Tampilnya dinasti Abasiyah yang menggantikan dinasti Umayyah dalam peradaban Islam membawa corak baru dalam budaya Islam dan terutama dalam bidang pendidikan Islam. Pada periode pertama dinasti Abasiyah (132 H/750 M-232 H/847 M), dunia pendidikan Islam mengalami masa kejayaannya (lahirnya sekolah-sekolah yang tak terhitung banyaknya yang tersebar dari kota-kota sampai desa-desa) dan sekaligus pada periode kedua dinasti Abasiyah (847 M-942 M) menjadi awal kemunduran intelektual Islam dan terlihat nyata pada periode kelima (akhir dinasti abasiyah 1258 M).[1] Hal ini sesuai dengan siklus sejarah yang bersifat faktual yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, yaitu ada generasi perintis, generasi penerus, generasi penikmat, dan generasi penghancur.
Beberapa hal yang melatar belakangi dinasti tersebut mundur/hancur, tentunya juga berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan Islam di dunia. Adapun beberapa hal yang menjadi akar kehancurannya yaitu; adanya faktor internal (konflik dalam keluarga Istana, dominasi militer, keuangan, berdirinya dinasti-dinasti kecil, luasnya wilayah, dan fanatisme keagamaan/aliran-aliran) dan faktor ekternal (terjadinya perang salib dan serangan tentara Mongol).[2]  
Sedangkan Islam di bagian Barat telah mengalami kemajuan dan kesuksesan selama kurang lebih delapan abad. Spanyol dengan pusat ibu kotanya di Cordova telah menjadi kiblat ilmu pengetahuan yang menyaingi Baghdad. Perkembangan ilmu pengetahuan di Spanyol juga mengalami kemandekan bahkan kemunduran sebagaimana kota Baghdad karena beberapa faktor: (1) adanya konflik kekeluargaan karena tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan diantara ahli waris, (2) lemahnya figur dan kharismatik para khalifah pengganti, (3) perselisihan di kalangan umat Islam sendiri, (4) konflik Islam dengan Kristen di dalam negeri karena kebijakan pemerintah tidak melakukan islamisasi secara sempurna, (5) munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang saling berebut kekuasaan.[3] Dalam posisi yang lemah tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang Kristen Spanyol untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Hancurnya kekuasaan Islam di Baghdad dan Cordova adalah sebagai faktor utama yang melatar belakangi kemunduran pendidikan Islam.

III.    Faktor-faktor Penyebab Kemunduran Pendidikan Islam
Dalam sejarah kehancuran total yang dihadapi kota-kota pendidikan dan kebudayaan Islam yang mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi pendidikan Islam dan melemahnya pemikiran Islam yaitu disebabkan:
1)        Berlebihannya filsafat Islam yang bersifat sufistik
Dalam buku “Sejarah Pendidikan Islam” editor Samsul Nizar (2009) yang mengutip dari Zuhairini dkk, menjelaskan tentang 2 pola intelektual yang saling berlomba mengembangkan diri dan memiliki pengaruh yang besar dalam pengembangan pola pendidikan umat Islam yang muncul dalam sejarah panjang dunia Islam. Dari pola pikir yang bersifat tradisional yang selalu mendasarkan diri pada wahyu yang kemudian berkembang menjadi pola sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi. Pola ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak (budi pekerti). Sedangkan pola pemikiran rasional mementingkan akal pikiran yang menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola yang kedua ini sangat memperhatikan intelektual dan penguasaan materi.[4]
2)        Sedikitnya kurikulum Islam
Dalam buku “Sejarah Pendidikan Islam” editor Samsul Nizar (2009) yang mengutip dari Mahmud Yunus, menjelaskan tentang sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran umum yang ada di madrasah-madrasah, seperti menafikan perhatian kepada ilmu-ilmu kealaman dan hanya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan yang ditambah dengan sedikit gramatikal dan bahasa sebagai alat yang diperlukan. Dengan penyempitan kurikulum yang ada juga sudah mulai meninggalkan ilmu-ilmu keagamaan yang murni (tafsir hadits, fiqih, usul fiqih, ilmu kalam, dan teologi Islam). Sedangkan ilmu-ilmu keagamaan yang ada adalah yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyucikan diri dan ditambah dengan pendidikan sufi.[5]
3)        Tertutupnya pintu ijtihad
Ini disebabkan dengan runtuhnya kota-kota pendidikan Islam, sehingga pelaksanaan pendidikan Islam banyak dilaksanakan dirumah-rumah para ulama yang pada akhirnya madrasah-madrasah kurang berfungsi. Namun demikian, pendidikan di madrasah masih terus dilakukan akan tetapi dengan mata pelajaran yang beraliran sufi dan sehingga para ulama banyak yang meninggalkan ijtihad. Selain itu, hal ini akan mengakibakan semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual yang mengakibatkan semakin statis kebudayaan Islam karena daya intelektual generasi penerus tidak mampu mengadakan kreasi-kreasi budaya yang baru, bahkan ketidak mampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan baru yang muncul.[6] 
IV.    Kebangkitan  (Aufklarung) Pendidikan Barat
      Kebangkitan Barat dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan ditandai dengan zaman Renainssance (lahir kembali), setelah mereka mengalami zaman pertengahan yang telah dikungkung oleh dominasi dogma-dogma Gereja. Keadaan seperti itu mengakibatkan perkembangan pendidikan menjadi mandek dan mengalami kegelapan. Oleh sebab itu di dalam kegelapan itu mereka merenung mencari alternatif, sehingga teringat suatu zaman yang berpendikan maju, pemikiran tidak dikungkung yaitu zaman Yunani kuno.[7]
Kebangkitan Barat yang telah mencapai kedudukan setara dengan kebudayaan-kebudayaan besar terjadi pada abad ke-16. Masa ini adalah proses tranformasi yang sangat penting yang akan memungkinkan Barat akan menguasai dunia secara keseluruhan. Perkembangan ini telah disiapkan Barat sejak dari 300 tahun. Sebagai masyarakat agraris konvensional, Eropa telah mentransformasikan diri dari lapisan atas hingga lapisan bawah, dan menata ulang seluruh sektor ekonomi, sosial, agama, pendidikan, politik, dan intelektual secara keseluruhan.[8] Kebangkitan Eropa ini barang tentu sangat didukung oleh kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pada masa ini telah ditandai dengan banyaknya temuan dibidang sains dan munculnya beberapa tokoh ilmuwan, seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1643), dan lain sebagainya.[9]
Kebangkitan kembali Barat dalam segala sektor, khususnya ilmu pengetahuan tidak lepas dari pengaruh pemerintahan Islam. Islam yang pada masa kejayaan telah menganut pola pemikiran yang rasional, mementingkan akal pemikiran, yang dapat menimbulkan pola pendidikan empiris rasional, serta memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material sedikit demi sedikit telah berpindah ke Barat.
Perpindahan ilmu pengetahuan ini melalui daerah-daerah yang terjadi kontak langsung antara Islam dan Barat yaitu melalui Andalusia, pulau Silsilia (Italia), dan perang Salib. Di Andalusia saat Spanyol jatuh ke tangan kekuasaan raja Alfonso VII pada tahun 1236 M, orang Spanyol Kristen, sebagai kata Hitti telah terpesona pada peradaban Islam yang gemilang, serta sadar atas kerendahan mereka dalam seni, sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan serta mereka segera mencontoh Arab dalam cara hidup. Di pulau Silsilia saat penguasaan bani Aghlab berakhir, Constatin African mendirikan sekolah tinggi kedokteran yang menjadi sekolah tinggi kedokteran pertama di Eropa sebagai pengembang llmu kedokteran Islam. Banyak buku-buku kedokteran yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin, seperti karangan Hunain bin Ishaq, Ali Abbas, dan ar-Razi.[10]
V.  Profil Pendidikan Islam pada Masa Kemunduran
Kehancuran total kekuasaan Islam di  Baghdad dan Cordova juga sangat berdampak pada kemunduran pendidikan dan kebudayaan Islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan buku ilmu pengetahuan di kedua pusat kota Islam itu menyebabkan mandeknya aktifitas intelektual diseluruh wilayah Islam. Suasana gelap dan memprihatinkan telah menyelimuti dunia Islam akibat berbagai krisis yang mencekam.[11]
Kemandekan dalam intelektual itu telihat dalam suatu pernyataan “pintu ijtihad telah tertutup” dan ajaran menyatakan bahwa “dunia adalah penjara bagi kaum muslimin”. Penutupan pintu ijtihad ini telah menyumbat pemikiran yang orisinal dan bebas serta membawa pada kemancetan umum pada aspek ilmu hukum dan intelektual. Dalam bidang fiqih yang berkembang adalah tradisi taklid buta dan menganggap kitab-kitab fiqih lama sebagai sesuatu yang sudah baku dan harus diikuti dengan apa adanya. Kebiasaan menulis dengan penulisan karya-karya asli tidak lagi ditemukan. Tradisi yang berkembang adalah hanya memberi komentar-komentar dari buku-buku lama. Tidak seperti halnya yang terjadi sebelumnya, misalnya Fakhruddin al-Razi menulis sebuah komentar tentang karangan Ibn Sina, akan tetapi dia tetap membuat karya yang independen.[12]
Kemunduran pendidikan ini Nampak jelas dengan sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran. Selain itu juga menyempitnya bidang ilmu pengetahuan umum dan terbatasnya ilmu-ilmu agama. Kemudian waktu yang diperlukan dalam menempuh studi juga relatif singkat, sehingga mengakibatkan kurangnya pendalaman materi pelajaran yang diterima. Hal ini menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan mandek dan mengalami kemorosotan. Madrasah-madrasah yang berkembang diwarnai oleh khalaqah-khalaqah dan zawiat-zawiat sufi, karya-karya sufi dimasukkan ke dalam kurikulum yang formal, dan kurikulum akademis terdiri dari hampir seluruh buku-buku tentang sufi.[13]
Pada masa kejayaan kerajaan Turki, walaupun mereka sangat kuat dalam bidang politik dan kemiliteran akan tetapi dalam ilmu pengetahuan tidak begitu menonjol, kecuali bidang arsitektur. Sufisme pada masa itu sangat digemari mayarakat dan sangat berkembang pesat. Keadaan frustasi yang merata karena hancurnya tatanan kehidupan intelektual dan material akibat konflik internal dan serangan tentara mongol yang membabi buta dan menyebabkan mereka bersifat fatalistik dan kembali kepada Tuhan. Pada masa itu lapangan ilmu pengetahuan menyempit. Madrasah adalah satu-satunya lembaga pendidikan umum dan di dalamnya hanya mengajarkan pendidikan keagamaan.[14]
Pada masa pemerintahan Mahmud II, Turki mengadakan reformasi dalam bidang pendidikan. Hal ini dipicu karena kemajuan militer Turki tidak diimbangi dengan sains sehingga saat berperang dengan musuh lamanya Eropa, pihak Turki mengalami kekalahan saat kontak senjata. Sultan Mahmud II mengubah pola madrasah tradisional disesuaikan dengan zamanya (abad 19), dan mengikis buta aksara. Dalam kurikulum baru dimasukkan pelajaran umum dengan memulai sosialisasi kepada masyarakat. Dia mendirikan sekolah militer, sekolah teknik, sekolah kedokteran, dan sekolah pembedahan. Selain mendirikan sekoslah modern sultan Mahmud II juga banyak mengirimkan pelajar ke Eropa.[15] Akan tetapi dengan waktu yang sangat singkat ini, Turki tidak bisa mengejar ketertinggalanya dengan Eropa yang telah bangkit lebih dahulu dengan persiapan kurang lebih 300 tahun.
VI.    Ulama Terkenal Pada Masa Kemunduran




VII.     Penutup
Kemunduran pendidikan Islam secara meyeluruh baik di dunia Islam bagian Timur yang berpusat di Baghdad dan dunia Islam bagian Barat yang berpusat di Cordova adalah disebabkan oleh hancurnya kekuasaan pemerintah Islam yang meliputi sosial, politik, dan keagamaan. Kemerosotan intelektual ini ditandai dengan bergesernya tradisi Islam yang dulunya bersifat mementingkan akal pemikiran yang dapat menimbulkan pola pendidikan empiris rasional, serta memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material ke tradisi tradisional yang bersifat fatalistik dan bertaklid buta.
Tradisi Islam yang maju dan bernilai tinggi ini lambat laun telah berpindah ke Barat, sehingga mendorong gerakan kebangkitan kembali (renaissance)  dengan menterjemah karya-karya Arab ke bahasa latin. Kemajuan Eropa dalam berbagai sektor kemudian memicu kesadaran umat Islam akan ketertinggalan dan kegelapanya dalam ilmu pengetahuan. Dengan berbagai upaya umat Islam berusaha untuk bangkit kembali dari tidur lelap dan mengejar ketertinggalan dari Barat.

Daftar Rujukan
Armstrong, Karen, 2003, “ISLAM Sejarah Singkat” Yogyakarta: Jendela,
Nata, Abudin, 2004, “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada,
Nizar, Samsul. editor. 2009. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Cet: Ke-3.
Sunanto, Musrifah, 2003, “SEJARAH ISLAM KLASIK” Jakarta Timur; Prenata Media,
Tafsir, Ahmad, 1990, “FILSAFAT  UMUM”, Bandung, PT Remaja Rosyda Karya,



[1] Samsul Nizar. editor. 2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Cet: Ke-3. Hlm 183.
[2] Samsul Nizar. editor. 2009. Hlm 184-189.
[3] Ibid
[4] Samsul Nizar. editor. 2009. Hlm 190.
[5] Samsul Nizar. editor. 2009. Hlm 191.
[6] Samsul Nizar. editor. 2009. Hlm 191-192.
[7] Ahmad Tafsir, 1990, “FILSAFAT  UMUM”, Bandung, PT Remaja Rosyda Karya, hal: 125
[8] Karen Armstrong, 2003, “ISLAM Sejarah Singkat” Yogyakarta: Jendela, hal: 163-164
[9] Ahmad Tafsir, Op.Cit, hal 126
[10] Musrifah Sunanto, 2003, “SEJARAH ISLAM KLASIK” Jakarta Timur; Prenata Media, hal: 223-228
[11] Samsul Nizar, editor, Op.Cit
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Abudin Nata, 2004, “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM”, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, hal 283-286
[15] Ibid, hal 286-287

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Sulhan Habib adalah mutakharrij pondok APIS Blitar dan sekarang sedang menempuh S1 di STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang.